Saturday, March 17, 2018

Phonic Quran Book

Games Level 5: Hari ke-10 Phonic Quran Book


Buku Phonic Base on Al-Qur’an. Buku yang berisi pengenalan huruf melalui metode phonic dan dikaitan dengan kisah-kisah dalam Al-Qur’an.
Dalam buku ini, anak-anak dapat menyentuh setiap huruf dengan tangannya.
Dalam buku ini juga anak-anak dapat melihat ilustrasi kisah sehingga dalam benak mereka setiap phonic dapat langsung terasosiasi dengan kisah dalam Al-Qur'an.
Buku ini emadukan konsep sand paper letter Montessori sehingga setiap huruf dapat disentuh oleh anak. Menyentuh huruf merupakan bagian penting dari proses pembelajaran menulis dan membaca.
Dengan menyentuhnya, anak-anak dapat mengasosiasikan phonic dengan hurufnyabelajar arah penulisan hurufmembangun kesan otot tangan dan visual terhadap huruf, serta mengingat bentuk huruf itu sendiri.
Dengan demikian, melalui hadirnya buku Phonic Base on Al-Qur’an ini, anak-anak Muslim tak hanya sekadar mampu membaca. Namun, lebih dari itu: ia menyukai dan terus berupaya membaca sebagai bagian dari pintu gerbang membuka ilmu-ilmuNya.



Mengenal Wordless Picture Books si Buku Bayi

Games Level level 5: Mengenal Wordless Picture Books si Buku Bayi

Buku bergambar atau picture books adalah jenis buku yang paling banyak diproduksi untuk anak-anak. Buku jenis ini mengkombinasikan gambar dan teks. Dalam buku bergambar, konten text dan ilustrasi sama-sama kuat.

Spesifikasi buku dapat dikatakan picture books apabila,  ketebalan buku 24 hingga 32 halaman. Biasanya halaman pendahulu hanya terdiri atas halaman judul dan halaman imprint (keterangan hak cipta). Tidak lazim dalam buku bergambar terdapat daftar isi, kata pengantar maupun pendahuluan.
Jumlah kata dalam buku bergambar biasanya 200 hingga 1.500 kata. Artinya sebuah teks buku bergambar apabila dituliskan ke dalam kertas A4 dengan spasi 1,5 hanya berkisar 5 halaman. Akan tetapi Wordless picture book merupakan buku bergambar yang sedikit sekali memuat teks atau kata-kata.

Wordless Picture Books sesuai dengan namanya hanya menyajikan ilustrasi dan umumnya ilustrasi yang bercerita. Anak-anak dibiarkan berimajinasi membentuk ceritanya sendiri dari gambar.

Hari ini Janna membaca beberapa Wordless Picture Books (WPB) nya.

Friday, March 16, 2018

Mengajarkan Sholat kepada Anak Menjadi Lebih Mudah

Games Level 5: Hari ke-8 Mengajarkan Sholat kepada Anak Menjadi Lebih Mudah 

Kemajuan teknologi yang semakin pesat membuat kegiatan belajar mengajar juga lebih mudah. Saat ini untuk mengajarkan sholat kepada anak juga lebih mudah. Kalau mamak jaman dulu mengandalkan buku sejuta umat yang berwarna ungu. wkwkwk

kayaknya kids jaman old pada punya deh buku ini

Sekarang belajar sholat bisa melalui aplikasi. Aplikasi ini adalah media pembelajaran berbasis augmented reality yang diintegrasikan dengan kartu bergambar animasi 3D. Dalam aplikasi ini, anak-anak akan diajak untuk belajar tata cara shalat dan wudhu, baik gerakan maupun bacaannya. Tak hanya itu, dalam aplikasi dan kartu ini, kami sertakan tata cara tayamum dan juga doa sehari-hari. Dilengkapi pula dengan aplikasi pengingat waktu shalat.

Pembelajaran shalat dan wudhu akan menjadi menyenangkan karena aplikasi ini sangat mudah digunakan, aplikatif, & interaktif. Apalagi, anak-anak akan dimanjakan dengan tampilan animasi 3D yang menarik.






Janna semangat sekali memainkan kartu ini, sampai keningnya berkerut.hehehe




Biarkan Anak Memilih Buku Bacaannya Sendiri


Games Level 5: Hari ke-7 Biarkan Anak Memilih Buku Bacaannya Sendiri 

Life long education (pendidikan sepanjang hayat) seharusnya tak hanya menjadi slogan kosong. Semboyan itu adalah panduan bagi siapa pun yang ingin menjadikan dirinya tumbuh lebih baik dalam tataran pemikiran, sikap, dan perilaku.

Membiarkan anak mengambil keputusan untuk dirinya sendiri adalah bekal untuk membuatnya jadi semakin percaya diri.

Banyak anak akan bingung ketika ia diminta memutuskan sesuatu. "Ini normal untuk anak usia 5-6 tahun, ketika mereka diminta membuat keputusan tentang hal-hal tertentu, seperti memilih sayur yang mau dimakan, memilih mainan, memilih rasa es krim, dll," kata Tamar Chansky, Ph.D., psikolog anak sekaligus penulis buku Freeing Your Child From Anxiety. Penyebabnya adalah kurangnya pengalaman anak. "Selama ini, orang tua membuat sebagian besar keputusan untuk anak-anaknya. Nah, ketika anak-anak ini kemudian masuk sekolah, dunia mereka semakin luas, dan ada lebih banyak kesempatan bagi mereka untuk membuat pilihan. Inilah yang kerap membuat anak-anak bingung," katanya.

Belajar membuat pilihan sendiri akan membantu anak-anak menjadi lebih mandiri, bertanggung jawab, dan percaya diri. Itu sebabnya, kemampuan mengambil keputusan adalah keterampilan penting yang harus segera diajarkan kepada anak.

Hal di atas juga mamak terapkan kepada Janna ketika memilih buku yang akan dibaca. Mamak jembreng (bahasa indonesianya apa ya?hehe) buku di depan Janna dan mamak biarkan dia memilih satu buku untuk dibacakan. Pada hari ini Janna memilih The Lion and the Mouse untuk mamak bacakan.




Mengajarkan Anak Membaca Sejak Dini?

Games Level 5: Hari ke-6 Mengajarkan Anak Membaca Sejak Dini?

Berbagai pro dan kontra tentang anak usia dini, apakah boleh belajar membaca, menulis dan berhitung masih menjadi pembicaraan di masyarakat. Berbagai penelitian dan pendapat yang mendukung bahwa anak usia dibawah 7 tahun boleh untuk belajar calistung, dan penelitian lain berbeda pendapat bahwa anak pada usia tersebut jangan diberikan pelajaran calistung. Mereka khawatir bila anak sejak kecil sudah dipaksakan belajar, lama kelamaan akan menjadi bosan dan justru ketika saatnya usia SD mereka justru akan mogok sekolah.

Alasan kontra tersebut selaras dengan penelitian seorang ahli psikolog perkembangan anak dari Swiss, Jean Piaget, seperti yang dituangkan oleh Afin Murtie pada bukunya Mengajari Anak Calistung dengan Bermain. Ia menyatakan bahwa pendidikan membaca, menulis dan berhitung jangan sampai diperkenalkan kepada anak-anak dibawah usia 7 tahun. Alasannya, karena pada masa itu anak-anak belum dapat berpikir operasional konkret sehingga ditakutkan pelajaran tersebut akan membebani mereka yang belum mampu untuk berpikir secara terstruktur. Sementara itu kegiatan calistung sendiri didefinisikan sebagai kegiatan yang memerlukan cara berpikir terstruktur, sehingga tidak sesuai bila diajarkan pada anak usia dibawah 7 tahun. Apalagi pada anak-anak usia bayi dan balita. Piaget mengkhawatirkan otak anak-anak tersebut menjadi terbebani dan tujuan awal mencerdaskan anak menjadi dilema karena justru anak-anak menjadi tidak bahagia dan tidak bisa menikmati kehidupan mereka.

Tetapi Jim Trelease menunjukkan dalam bukunya yang bertajuk The Read Aloud Handbook bahwa mengenalkan membaca kepada anak dapat dimulai semenjak anak mulai mampu mengikuti gerakan kita dengan penglihatannya. Ini sekitar usia 4 bulan.

Selain Jim Trelease ada beberapa peneliti lainnya yang menyangkal pendapat Piaget tersebut, diantaranya :
  • Glenn Doman dengan kartu flash-nya, dimana ia menunjukkan bahwa pada bayi jauh lebih mampu belajar dari yang kita bayangkan.
  • Howard Gardner, psikolog perkembangan dari Amerika, tentang cara memandang calistung sebagai sebagian kecil keterampilan yang seharusnya diperoleh anak, seperti motorik dan sensorik.
  • Dr. Marian Diamond, Profesor University of California-Berkeley, menyimpulkan bahwa pada umur berapapun semenjak manusia lahir hingga meninggal dunia sangat memungkinkan untuk meningkatkan kemampuan mental melalui rangsangan lingkungan
  • Elisabeth G. Hainstock, Penemu metode montessori, menyatakan bahwa puncak perkembangan otak anak adalah saat usia pra sekolah.(Bunda Ranis)

Dari beberapa teori di atas akhirnya dapat ditarik kesimpulan bahwa anak belajar calistung semenjak dini bukanlah hal yang tabu. Sangat bisa dan tetap membuat mereka bahagia. Pada masa komunikasi prasimbolik, setiap rangsanan komunikasi memberi pengaruh yang sangat besar bagi keterampilan komunikasi anak, termasuk di dalamnya kemampuan berbahasa dan berpikir. Di masa golden age inilah, anak harus mendapat stimulus yang tepat agar mereka benar-benar dapat tercetak menjadi generasi emas yang dapat memajukan bangsa dan negara. Kuncinya hanya terletak pada cara transfer pengetahuan calistung itu sendiri.

Bila kita dapat menemukan cara atau metode yang tepat dan efektif dalam membaca bagi anak usia dini tanpa mengesampingkan kesenangan mereka, kenapa tidak kita optimalkan saja potensi anak di saat periode keemasan tersebut. Kuncinya adalah kita harus mengikuti dunianya anak-anak, yaitu bermain. Jadi pembelajaran dilakukan dengan cara yang menyenangkan, sehingga anak tidak merasa terpaksa dan dibebani. Pembelajaran dilakukan sambil bermain, maka anak akan lebih mudah paham dan dapat mengingat untuk jangka yang panjang. 

Mamak sendiri mulai memperkenalkan Janna dengan buku di usia Janna yang ke 3 bulan. Buku pertama Janna yaitu soft book keluaran Carters 


Buku ini sekarang masih suka dibuka-buka juga oleh Janna. Apalagi sekarang tangannya sudah bisa mencet-mencet, semakin seru Janna memainkan bukunya. Karena membaca itu menyenangkan. :)





Wednesday, March 14, 2018

Kantong Waktu Ibu

Games Level 5: Hari ke-5 Kantong Waktu Ibu

Pada postingan sebelumnya mamak pernah menjanjikan akan berbagi tips membaca bagi irt tanpa art. Nah, kali ini kita akan bahas hal tersebut yaa..

Kita tau bagaimana sibuknya menjadi ibu rumah tangga tanpa asisten rumah tangga. Mengurus semuanya sendiri dari A-Z. Dengan kesibukan tersebut, irt rentan terhadap stress. Untuk itu ibu sebaiknya menyediakan waktu khusus untuk me time. Masalahnya, emang ada waktu buat me time??

Setahun menjadi irt membuat mamak belajar banyak hal, salah satunya membagi waktu. Walaupun belum se-expert ibu-ibu lainnya sih. 

Di awal-awal rasanya keteteran sekali, rasanya waktu yang ada tidak cukup dibandingkan dengan to do list yang buanyiak banget. Sekarang mamak sudah mulai bisa membaca buku setiap hari. Bagaimana caranya? Dengan memanfaatkan kantong waktu yang ada.

Kantong waktu / time pockets adalah istilah dimana kita memiliki waktu luang di antara dua kejadian. Contoh kantong waktu adalah saat kita menunggu seseorang, berada di perjalanan, berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lain dan sebagainya.

Kalau buat mamak di rumah, kantong waktu mamak yaitu pada saat menyusui. Mamak memanfaatkan waktu menyusui untuk membaca buku, walaupun seringnya tergoda untuk ceki-ceki sosmed. Baiknya sebelum mulai menyusui segera terapkan offline mode pada smartphone, supaya tidak terganggu oleh notif-notif yang masuk dan nantinya berujung mantengin insta story #pengalamanPribadik

Berikut ini tips dari @byputy bagi ibu untuk tetap membaca buku. Tips ini juga yang mamak terapkan sehari-hari..

Tips Untuk Tetap Membaca Buku

  1. Buat target jumlah buku yang mau dibaca dalam rentang waktu tertentu. Nggak usah terlalu ambisius angkanya, hehehe. Sesuaikan dengan kecepatan membaca dan kesibukan kita. Satu buku sebulan misalnya, jadi dalam setahun 12 buku.
  2. Jangan terpatok hanya membaca satu buku dalam satu waktu. Read some books simultaneously. Letakkan di beberapa tempat, misalnya di lantai atas, lantai bawah, di kamar mandi kalau perlu (huahahah!) Ketika merasa bosan, nggak perlu stuck di 1 buku saja. (Saya bisa sampai punya 6 – 7 buku dalam ‘currently reading’ list dengan tema yang bervariasi, dari teenlit sampai buku agama. Bisa ditebak, selalu buku agama yang paling lama selesai :p #PLAK!)
  3. Dedicate some time, misalnya 30 menit sebelum tidur sambil maskeran. (Kalau saya suka baca sambil makan. Mohon maaf untuk teman-teman yang mahzab mindful eating :’)))))))))
  4. Be offline when you want to read. Menurut saya ini yang paling penting sih karena memang harus diakui kalau notifikasi dari smartphone adalah musuhnya baca buku, hehehe.
  5. Coba buat daftar buku yang belum dibaca lalu usahakan untuk membuat janji pada diri sendiri: baru boleh beli buku baru setelah ada buku yang dicoret dari daftar buku tersebut. Bagi saya ini efektif karena sebelum event diskon-diskon buku seperti Big Bad Wolf, saya jadi rajin baca supaya bisa belanja buku-buku lagi, hahaha.
  6. Untuk ibu-ibu yang sudah punya anak yang mulai bisa membaca, coba buat reading time bersama anak. Teorinya, cara paling efektif untuk menularkan hobi kepada anak adalah mencontohkannya. Memang betul, teori itu gampang namun prakteknya ya pasti nggak sesederhana mendengarkan cocote Mario Puguh, hahaha. Ya tapi namanya juga usaha kan :p

Monday, March 12, 2018

Task 4 Shokyu Konmari- Tidying Festival Begins


Akhirnyaaa... yang dinanti hadir juga! 🤩


🎉🎉 *Tidying Festival*🎉🎉🎉🎉

Sejak materi pertama, selalu saja ada yg sudah tidak sabar membahas teknis berbenah ala Konmari. Luarrr biasaaa... artinya teman-teman semua sangat antusias dan bersemangat ingin segera praktik 🎉🎉🎉

Baiklah, selamat datang di Task 4 😍

Kali ini tugasnya adalah *mulai berbenah pakaian*

Kirimkan 4 buah foto berupa:

1. Foto lemari pakaian saat ini (before)




2. Foto smua pakaian yang sudah terkumpul (step 1)




3. Foto pakaian yang sudah lulus uji spark joy sebelum dilipat (step 2)


Tumpukan pakaian Bye-bye



4. Foto pakaian yang sudah dilipat ala Konmari.




Mba Sri yang biasa bantuin setrika akhirnya bisa melipat ala konmari..yeaay

Nah, di bawah ini lemari setelah melewati proses konmari




















Sunday, March 11, 2018

Bayi Hobi Membaca

Games Level 5: Hari ke-4 Bayi Hobi Membaca

Alhamdulillah karena sudah dibiasakan membaca sejak umur 3bulan, Janna di usianya yang sekarang 15bulan sudah bisa memilih sendiri buku yang ingin dibacakan.

Sekarang Janna sudah sensitif terhadap huruf, asal melihat huruf dimanapun pasti dia notice. Kemarin rumah kami kedatangan bude. Kebetulan bude memakai baju yang ada tulisannya, Janna mendekat ke bude sambil menunjuk huruf yang ada di baju bude lalu ngoceh seperti mengeja huruf tersebut..hehe.. Lain lagi kalau melihat huruf arab, tangannya langsung reflek seperti orang berdoa..ada-ada saja kepintaran kids jaman now.

Semakin lama, fokus Janna dalam membaca buku semakin panjang durasinya. Sekarang Janna sudah bisa menyelesaikan satu buku, walaupun disambil nonton ataupun main. 

Mamak terheran dibuatnya, hari ini Janna menyodorkan buku Rukun Islam for Muslim Kids untuk dibacakan. Buku ini termasuk tebal, karena membahas rukun Islam. Janna dengan tekun mendengarkan mamak membaca buku ini, kemudian dia yang membalik setiap halamannya. Per beberapa halaman, ditinggal main sebentar. Tapi kemudian datang lagi ke mamak minta diteruskan membaca buku tersebut..lucunyaa..

Dibawah ini dua buku yang Janna minta untuk mamak bacakan:



Pohon literasinya sudah mulai berdaun, dengan pelan tapi pasti..


Kemarin Baba nemu post it dengan bentuk daun yang lebih kecil dari sebelumnya, jadi sebagai pembeda daun literasi mama baba dan Janna. Sekaligus memacu kami sebagai orang tua supaya giat membaca seperti Janna..



Friday, March 9, 2018

Cara Membiasakan Anak Membaca Sejak Dini

Games level 5: hari ke-3 Cara Membiasakan Anak Membaca Sejak Dini



Tak perlu menunggu sampai usia pra-membaca antara 2 sampai dengan 6 tahun. Dari hasil penelitian Trelease mendapatkan bahwa anak yang sejak usia 4 bulan "dibiasakan membaca", pada usia 9 bulan sudah mampu memilih bahan bacaan yang ia senangi. Sedangkan memasuki usia 5 tahun, " Anak sudah dapat mengajari dirinya sendiri untuk membaca". •


Membudidayakan membaca kepada bayi, berbeda dengan membudidayakan membaca kepada anak yg berusia diatas 2 tahun. Caranya:
📌Peluklah bayi, kehangatan fisik dan emosional sangat menentukan keberhasilan ipaya membudidayakan membaca kepada bayi
📌Orang tua sebaiknya memilihkan buku bergambar dengan sedikit kata (WPB= wordless picture book) yang bersampul keras dan menggunakan kertas dalam yang keras (hard-paper).
 Buku-buku berukuran sekitar 10x15 cm sampai dengan 15x22,5 cm merupakan pilihan yang tepat. Pilihkan WPB yang setebal 8-12 halaman
📌Bayi memang pembaca pasif. Orang tua yang harus aktif. Jalinan komunikasi verbal, non-verbal dan tatapan mata antara ibu dan anak sangat penting bagi anak.
 📌Biarkan bayi ikut serta memegang buku bacaan, melihat-lihat gambar buku dan melihat wajah ibunya.
📌Sekali waktu, biarkan bayi "membaca sendiri" buku bacaannya, "memilih", memukul2kan ke lantai adalah "gaya khas bayi" dalam membaca. WPB adalah alat permainan bagi bayi.



Source: Salahnya Kodok, Muhammad Fauzil Adhim

Tuesday, March 6, 2018

Daun Literasi Mulai Bertumbuhan

Games Level 5: Hari ke-2 Daun Literasi Mulai Bertumbuhan


Alhamdulillah tangan Janna nggak gatel motekin daunnya..hehe

Berikut dokumentasi kegiatan membaca kami hari ini. Alhamdulillah sejak umur 3 bulan Janna sudah diperkenalkan dengan buku. Di usianya sekarang yang 12 bulan, Janna sudah akrab dengan buku. Membaca sudah seperti bermain bagi Janna. Mamak tidak perlu memilihkan buku yang mau dibaca, Janna sudah bisa memilih buku mana yang mau dibacanya.



Dilain kesempatan mamak akan share bagaimana cara menumbuhkan kegemaran membaca sejak dini dan bagaimana sih ibu dengan toddler tanpa dibantu art bisa membaca buku setiap harinya. Ditunggu yaa..

Monday, March 5, 2018

Tutorial Membuat Pohon Literasi

Games Level 5: Hari 1 Membuat Pohon Literasi

Games Kali ini sangat menarik, yaitu Menstimulasi Anak Gemar Membaca.

Iqra! Bacalah! Perintah Tuhan pertama kali ini mengingatkan bahwa membaca merupakan sebuah proses penting mengenal diri.

Membaca merupakan jembatan ilmu, makanan bagi otak, dan melatih imajinasi. Serta banyak lagi manfaat dari membaca.
Yuk jadikan diri kita teladan bagi anak dan keluarga!

🍀 _Jadilah teladan_
✅ Jadwalkan _family reading time_
Membacalah dengan anggota keluarga
✅ Buatlah pohon literasi untuk masing-masing anggota keluarga, rimbunkan pohon tersebut dengan judul buku yang telah dibaca.
✅ Diskusikan dengan anggota keluarga tentang buku yang telah dibaca, gunakan untuk menambah pengetahuan dan merekatkan hubungan dengan anggota keluarga yang lain.

👨‍👩‍👧‍👦 *Bagi yang sudah memiliki anak*
📖Jadilah ibu teladan, bacakan buku bersama anak (sesuai dengan tahapan usia anak)
📸Dokumentasikan kegiatan membaca anda
🗒Tempelkan judul buku yang telah dibaca pada pohon literasi

Yak begitulah isi tantangan Level 5. Hari ini kami menempelkan pohon literasi yang sudah dibuat beberapa hari sebelumnya. Karena ada beberapa keperluan sehingga pohon literasinya baru dapat di"tanam" hari ini.

Buat yang masih blank cara membuatnya, berikut mamak tuliskan step by step cara membuat pohon literasi:

1. Siapkan bahan-bahan yang diperlukan



Kebetulan mamak masih menyimpan kardus kulkas, ukurannya yang besar jadi pas banget untuk dibuat pohon.

2. Search di Pinterest gambar pohon seperti apa yang dimau


3. Buat sketsa di kardus 

4. Potong kardus sesuai dengan sketsa yang dibuat

5. Tempel ke dinding dengan double tip.
Tadinya mamak pikir, double tip tidak kuat buat menempel kardus ke dinding, ternyata bagus banget nempelnya.

6. Selesai. Pohon siap untuk ditumbuhi dedaunan. Semakin banyak yang dibaca, maka semakin rimbun pohonnya.




Hari ini dedaunan sudah mulai "tumbuh" di pohon literasi kami. Semoga pohonnya bisa rimbun, sehingga membaca menjadi suatu kebiasaan di rumah kami..

for things to change, I must change first